Nukilan Hidup

00.00

00.00

Semakin sedikit lembar di jempol tangan kanan, semakin sedikit pula kemampuan kelopak mata untuk membuka. Cahaya dari lampu yang sengaja kuhidupkan tidak mampu menopang beratnya rasa kantuk akibat lelah hari ini. Tepat berada di halaman 180 aku berhenti membaca. Kuarahkan pandangku pada jarum jam, masih pukul 23.34. Kujulurkan tangan kiri untuk raih buku lain, buku yang lebih tipis dengan harapan dapat menyelamatkanku dari rasa kantuk.

Hingga tepat pukul 00.00 tidur belum mampu mengalahkanku. Aku paksa badan dan mata yang terlalu lelah untuk sekedar mengambil air minum di samping ranjang demi ‘merayakan’ 24 tahun kehadiranmu di dunia. Aku hanya ingin berada di detik-detik ini. Memejamkan mata dan menguntai doa untuk hari ini. Hari dimana ibumu berjuang dengan rasa sakit yang teramat sangat, hari dimana bapakmu mengumandangkan adzan di telingamu. Hari dimana kebahagiaan mereka dimulai seiring tangisanmu yang menggema di sudut-sudut ruangan persalinan.

Aku sengaja tidak mengambil ponsel, tidak kurangkai kata-kata indah untuk meninggikanmu. Aku ingin berada di 00.00 dengan khidmat. Memaknai kembali kehadiranmu di dunia dan di hidupku sebagai karya Yang Maha Agung. Untuk kemudian bersyukur, Allah telah menurunkan surga kecil untukku di dunia ini dalam perkenalanku denganmu. Perkenalan dengan anugerah-Nya, kuasa-Nya, dan ilmu-Nya yang membuatku ingin lebih mengenal-Nya.

Lewat hidupmu aku belajar, lewat sakitmu aku mengingat, betapa banyak hidup ini yang harus disyukuri. Dan betapa nasib ini tidak mempunyai kewajiban untuk setia menuruti kemampuan manusia. Sebagaimana dirimu sekarang akan berangkat ke masa depan dengan nasibmu. Dan Yang Maha Kuasa akan dengan mudahnya mengawinkan perjuanganmu selama ini dengan nasib yang indah.

Doaku, kamu selalu dimudahkan dalam perjalanan masa depan nasibmu. Jika kamu terjatuh dan harus dipapah jalannya dalam menyongsong nasibmu, aku berdoa agar nasibku menjadi orang itu, orang yang beruntung bernasibkan untuk memapahmu. Di 00.00 yang akan datang dan seterusnya sampai tinta di nasib kita sama-sama habisnya.

Standard
Nukilan Hidup

Petarung

Aku menyadari bahwa sebagai manusia hakikatnya dicipta sebagai petarung. Sejak awal kelahiran hingga kematian, hidup manusia tidak pernah lepas dari pertarungan. Dimulai sejak ditiupkannya ruh ke dalam janin, saat itu pula manusia memulai perjalanannya sebagai petarung. Tak bertangan, tak berkaki, hanya dengan plasenta, janin kecil bergelut mengais-ngais oksigen, zat hara, dan makanan dari induknya. Demi tujuan yang datang di hari pertamanya ke dunia; menjerit, menangis, mengepal, dan terlahir dengan sehat.

Terlahir dengan sehat adalah kemenangan yang dijanjikan dalam pertarungan ini. Pertarungan -dengan caranya masing-masing- selalu menawarkan dua hasil akhir, menang atau kalah. Jika tidak mampu bertarung, janin tadi akan kalah. Konsekuensinya terlahir tidak sehat atau bahkan tanpa nyawa. Pertarungan adalah panggung pergulatan untuk menjadi menang atau menjadi kalah.

Kemenangan, menjanjikan sebuah harapan. Harapan bagi tiap-tiap petarung untuk berjuang dan berkorban dalam tiap ikhtiarnya. Janji-janji manis sebuah kemenangan menjadi serum yang menginjeksi untuk selalu berdaya upaya dalam tiap pertarungan.

Sebelumnya tidak pernah terpikirkan akan sebuah pertarungan yang lain. Pertarungan yang menuntut perjuangan seumur hidup. Pertarungan yang divonis manusia yang lain tanpa kemenangan. Pertarungan yang kau hadapi saat ini.

Aku pernah membayangkan menjadi dirimu barang sehari saja. Hidup bersama gejala sakitmu yang tidak mau diajak berdamai. Bagaimana kubayangkan dirampas waktu tidurmu dengan sakit kepala yang hebat.  Diberi mual perutmu, kemudian dimuntahkan isi yang telah kau makan. Dimatikan rasa di sekujur tubuhmu, dan dilumpuhkan kedua kakimu. Juga gejala-gejala lain yang sakitnya tidak tertangkis. Sungguh, aku tidak mampu menjalaninya.

Namun, betapa hebatnya kau yang telah menjalaninya selama ini. Dan betapa hebatnya kau yang berikrar untuk menjadi petarung di pertarungan ini sampai nanti. Bagiku kau adalah petarung yang lebih besar dari pertarungan ini sendiri. Lebih besar dari sakit dan penyakitmu. Dan aku, aku tidaklah sanggup menjadi petarung sepertimu. Aku akan menjadi petarung yang lain. Petarung yang melindungimu dengan tulang, bangkai, dan nyawaku. Biarlah, biarlah vonis manusia diteriakkan di telinga kita. Tidak perlu kau dengar. Tanganku akan menutup rapat-rapat telingamu. Bahuku akan menjadi sandaranmu ketika kau jatuh. Untuk kemudian menegakkan langkahmu menjalani hidup ini.

Jika pada akhirnya kita pun terjatuh, lekas bersimpuh. Menengadah ke atas, ke Maha Pencipta. Dia pemilik kita dan kepada-Nya kita berserah diri. Manusia haruslah berdaya, kalah atau menang dalam ikhtiarnya, mencoba berjuang, terus berjuang.

 

Untuk Hanifa, petarung multiple sclerosis.  

 

Standard
Renungan

Batas Orang Lain

Bicara tentang sakitmu sejatinya aku tak pandai. Hanya dari literasi internet dan minimnya informasi darimu jadi penghalang. Yang kupahami menjadi perempuan yang bertarung melawan apa yang tidak diketahui banyak orang itu susah. Orang lain tak akan mengerti, aku pun tak mengerti.

Orang lain tidak tahu saat mereka tidur terlelap kau masih sibuk dengan migrain yang menusuk kepala. Orang lain tidak akan mengerti ketika kau duduk barang 30-60 menit rasa nyeri sudah menerkam punggungmu. Orang lain akan menganggap kau lebih sehat karena melihat pipimu lebih berisi. Padahal itu efek steroid. Orang lain akan anggap kau terlalu lama balas chat padahal kau pusing saat melihat layar hp. Pandang orang lain akan selalu di luaran saja. Yang memang kutaksir sengaja kau poles sedemikian rupa hingga menyamarkan symptoms yang kau rasakan. Aku jadi paham akan caramu menyikapinya.

Seperti sore itu ketika kau mengabarkan kakimu tidak bisa digerakkan, kau mengemas sedemikian rupa sehingga yang nampak bukan berita sedih. Padahal itu artinya kursi roda harus menemani. Sudah kodratnya yang mendengar sedih. Mungkin tidak enak denganmu sehingga melakukan hal yang sama untuk menutupi. Dari situ aku makin paham, jangankan berbagi sakit. Melihat orang lain sedih atas sakitmu saja kau tak sudi. Kadang aku merasa, batas ‘orang lain’ bagimu terlalu sempit. Jika aku yang kau sebut orang lain itu tak mengapa. Namun jika batas itu sampai ke orang tua akan menjadi tak baik. Karena orang tua tidak pernah merasakan repot mengurus anaknya.

Sejatinya, kehadiranmu sudah dianggap sebagai anugerah tiada cela bagi mereka. Jauh sebelum kau sebesar ini, tak henti-hentinya orang tua bersyukur atas kelahiran buah hatinya ke dunia. Bahkan sejak dikandungan, kau sudah dibesarkan dengan kasih sayang.

Kau tidak perlu merasa tidak enak dengan apa-apa yang Allah berikan lewat mereka. Itulah bentuk Ar Rohim, Allah menunjukkan kasih sayangnya lewat tangan ibumu. Allah memberi kasih sayangnya lewat nasehat bapak untuk menguatkanmu. Allah menggunakan bimbingan kakak untuk meluruskanmu.

Mereka ada atas jawaban doamu kepada Allah. Jadi pertolongan Allah memang dekat. Sedekat ibu, bapak dan kakak yang tidak pernah merasakan repot atasmu, salah satu sumber kebahagiaan di antara mereka. Teruslah menjadi sumber kebahagian mereka, tanpa menyembunyikan sakit, tanpa mengunci tangis di dalam kamar sendiri. Bagi mereka terutama ibu, tumbuh sebesar apapun kau tetap anak kecilnya. Beliau akan rela menggadaikan apa-apa yg ia punya demi senyum di wajahmu. Teruslah menjadi anak kecil ibumu dengan berbagi senang atau sedih. Anak kecil yang nanti mewarisi sifat mulia ibumu.
Standard
Nukilan Hidup

Kamar

Tidak ada percakapan serius di telepon hari itu. Ketika saya tanya “Ada apa Bu?”, dengan datar Ibu menjawab, “tidak ada apa-apa”. Lalu sejurus kemudian kami diam. Diam kami melahirkan jeda di percakapan. Jeda yang datang tanpa permisi. Jeda yang biasa datang sebagai isyarat. Menandakan orang yang bercakap kehabisan cerita. Atau memang cerita yang diperbincangkan berubah menjadi basi.

Tapi jeda kala itu mengisyaratkan hal lain. Jeda tersebut seolah diberi pangestu oleh ibu untuk hadir diantara kami. Jeda yang menyamarkan kenyataan bahwa obrolan kita sudah tidak begitu penting. Saya bisa merasakannya. Hingga saya berkesimpulan bahwa jeda-jeda yang muncul di telepon beberapa hari ini adalah jeda yang dipaksakan ibu untuk berlama-lama dengan anaknya di telepon.

Mendapati ibu yang akhir-akhir ini sering menelepon dan bersikap aneh memang menimbulkan pertanyaan besar. Obrolan ringan seputar kabar, kegiatan harian, dilakukan berulang-ulang. Juga tidak luput obrolan yang tidak begitu penting seperti terakhir kemarin seputar mengecat kamar. Mengecat ruang yang belum tentu akan ditempati dalam waktu dekat.

Kamar di rumah kami ada 5 buah: 3 di atas yang diisi saya, mbak, dan adik sehingga tangga adalah pemisah antara kamar kami dan kamar ibu bapak di bawah. 3 kamar tersebut sekarang hanya 1 yang diisi. Saya sudah lama tidak tidur di ruang bersekat – yang bagi sebagian orang dianggap sebagai istana kecil –itu semenjak merantau. Sedangkan mbak baru saja menikah dan ikut suami merantau sehingga menambah volume ruang kosong di lantai 2.

Saya berpikir lagi, ruang-ruang kosong di lantai 2 ini yang membuat ibu berubah. Jika sebelumnya hanya 1 pintu yang selalu tertutup kini bertambah 1 pintu lagi. Pintu yang sebelumnya sering dilewati anaknya sekarang hanya ibu seorang diri yang melewati. Ritus yang kini harus dilaluinya dengan kesendirian tersembunyi.

Saya membayangkan kakinya yang sudah mulai tua berjalan dari bilik 1 ke bilik lainnya. Mendapati ranjang yang berdiri kokoh namun tidak ada yang ditopang. Menatap sudut-sudut kamar yang kosong. Sesekali senyumnya tersungging saat melihat foto anaknya di sudut tembok.

Tiap membuka pintu kamar tersebut selalu muncul harapan kecil. “Semoga aku melihat tubuh yang meringkuk di dalam selimut”. Tapi tidak ada. Jika sebelumnya hanya 1 lampu di kamar yang tidak pernah menyala, sekarang bertambah 1 kamar lagi.

Kamar itu sejatinya bukan hanya ruang bersekat yang di salah satu sisinya terdapat pintu. Tapi kamar itu adalah perwujudan ruang hati seorang ibu. Ada perasaan senang saat melihat pemilik kamar tersebut telah merantau atau telah menikah. Tapi kamar hakikatnya menawarkan kesenangan sekaligus kepedihan buat seorang ibu. Garisnya begitu tipis. Beban sebagai orang tua memang berkurang namun bersamaan itu ruang hatinya menjadi kosong. Sesunyi perasaannya saat mendapati kamar yang dulu dia bangun untuk anaknya sudah tidak berpenghuni.

Tapi ibu tetaplah ibu bagi anak-anaknya. Tetaplah penjaga bagi ruang-ruang hatinya. Nasib menjadi seorang ibu dimaknai sebagai berkah terbesar dari semesta. Beliau tahu kini cukup sulit untuk sekedar meraih tangan pemilik kamar-kamar itu. Tapi beliau juga tahu bahwa doa-doa yang dipanjatkan pelan-pelan menjuntai memeluk anaknya. Berharap pada Pemilik semesta untuk menjaga mereka.

Perpisahan memang pahit, tapi juga menawarkan kita cara berdamai dengan rasa kehilangan. Menjadi pengingat akan waktu-waktu yang terbuang bersama. Ibu mungkin tidak mengharap balasan apa-apa. Namun sejatinya doa-doa kita yang bertanggung jawab mengisi ruang-ruang hatinya. Menyambung amalan putusnya. Sehingga semoga bukan lagi ‘saya’ atau ‘kamu’, tapi ‘kita’ di ujung akhir dunia juga akhirat.

Standard
Nukilan Hidup

8:40

Beberapa panggilan interview sudah saya datangi. Mengenai interview ini saya mengamini apa yang dinasehatkan almarhum paman. “Pengalaman bekerja itu dimulai dari hal kecil semenjak membuat CV, melamar, hingga interviewnya. Sejatinya kegagalan saat interview bukanlah kegagalan. Namun itu modal untuk interview selanjutnya. Kumpulkan ‘modal’ sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan pekerjaan yang kamu mau”. Belakangan saya berkawan dengan nasehat terakhir paman ini untuk faset kehidupan lain.

Kantor pertama saya tidak mewah, bahkan saya lihat tidak layak disebut kantor. Perangkat-perangkat berserakan, perabotan mulai usang, debu yang menempel di kaca seolah bercerita bahwa kaca ini jarang dibersihkan. Beberapa orang dengan pakaian bebas menikmati hisapan demi hisapan rokok di pelataran. Asap yang berkumpul seolah menyambut kedatangan saya. Dengan canggung saya memasuki kantor itu sambil menanyakan sebuah nama untuk saya temui.

“Tidak ada lembur loh, tidak juga ada tunjangan, gajimu 800 ribu” kalimat yang keluar dari mulut ibu HRD muda ini. Mirip ibu saat mengancam anaknya saat berbuat nakal. Tapi entah bisikan dari mana yang membuat saya dengan penuh yakin menjawab, “Tidak apa-apa, saya terima”. Ibu itu meyakinkan saya sekali lagi dan saya tidak bergeming dengan keyakinan saya. “Oke, kamu diterima besok kamu boleh masuk”.

Pertaruhan yang tidak kecil. Dengan gaji 800 ribu tinggal di Surabaya. Makan, kos, transport jika dihitung tidak akan cukup (UMR waktu itu 1-1,2 juta). Faktor yang membuat saya berani melakukan perjudian besar dengan pekerjaan tersebut adalah idealisme saya untuk mendapat pekerjaan sesuai jurusan kuliah. Memang benar jika Tan Malaka menyebut idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda. Tanpa hal itu mungkin sekarang saya bekerja di bidang yang tidak saya sukai.

3 bulan pertama hampir setiap hari saya dikirim project ke luar kota. Memang saya mengalami banyak pengalaman ‘tidak enak’ seperti pertama kalinya naik tower setinggi 50 meter. Dengan kaki gemetar saya merambat pelan seperti ulat menyusuri anak tangga demi anak tangga. Mengakrabkan diri dengan yang namanya malam yang seharusnya jadi akhir perbudakan. Kursi mobil jadi sahabat menghamparkan tubuh untuk terlelap. Butuh rasa letih yang sangat besar agar kelopak mata bisa tertutup dengan denging suara nyamuk dari penjuru kiri dan kanan.

Berkah tersendiri selama 3 bulan gaji saya utuh. Selama ‘masa orientasi’ tersebut uang makan ditanggung. Hanya jam tidur saja yang tidak tergantikan. Namun setelah masa itu perusahaan menaikkan gaji hingga hampir 2x lipat. Ini skenario yang cukup rapi untuk menguji karyawan benar-benar serius atau tidak.

Saya termasuk orang yang loyal terhadap perusahaan. Bukan kutu loncat yang mencari-cari mana pekerjaan yang enak sehingga riwayat pekerjaan saya di satu perusahaan cukup lama. Bekerja itu bukan petualangan mencari pekerjaan yang enak. Tapi bagaimana cara membuat pekerjaan itu menjadi enak. Di perusahaan pertama ini saya bertahan hingga 3 tahun lebih. Segala naik turun maju mundur perusahaan saya alami. Mengalami level terendah dari suatu pekerjaan pun pernah. Puncaknya saya berhenti dengan menyisakan piutang 3 bulan gaji yang belum dibayar.

Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik, loyalitas kita perlu kalibrasi. Tidak acap dalam level tertinggi. Perusahaan mungkin tidak mau karyawannya tidak mendapat gaji. Namun perusahaan juga tidak kuasa jika dirundung pailit.

Gaji yang ditunggak itupun sebenarnya serasa tak berarti jika disandingkan dengan pengalaman dan ilmu yang saya dapat. Dan patut disyukuri pengalaman dan ilmu itu yang mengantarkan saya ke pekerjaan-pekerjaan selanjutnya hingga sekarang.

Tidak hanya ilmu eksak, pelajaran hidup banyak dipetik juga dari pekerjaan. Apalagi menjadi seorang perantau, harus rela hidup soliter tanpa adanya kehadiran keluarga. Setiap pekerjaan baru, sudah selayaknya naik level dari pekerjaan sebelumnya. Level gaji, level tanggung jawab, ataupun level posisi. Tapi hal itu tidak wajib. Kadang rejeki muncul dalam bentuk lain. Rekan kerja yang bisa menjadi rekan bermain, lingkungan kantor yang kondusif, bos yang paham menjadi karyawan, adalah beberapa bentuk rejeki yang diturunkan Tuhan dalam wujud lain.

Besaran gaji bukanlah parameter untuk kemapanan. Ukuran mapan atau tidak mapan itu tergantung dari diri kita sendiri. Kemapanan itu lahir dari bagaimana kita menyikapi tiap elemen dari pekerjaan; apakah pekerjaan sesuai dengan passion? gaji yang cukup, lingkungan kerja dan faktor-faktor lain. Seperti apa yang dinasehatkan Imam Syafi’i, “Apabila sikap hatimu selalu rela dengan apa yang ada. Maka tak ada perbedaan antara dirimu sendiri dan para hartawan.”

Tidak banyak orang yang merasakan pekerjaannya adalah pekerjaan ideal baginya. Amat bisa jadi niatnya bekerja untuk mendapat gaji yang tinggi namun tidak tinggi. Niat mendapat pekerjaan yang nyantai tapi tidak nyantai. Pernah mendengar nasehat dari seorang teman, “bekerja itu adalah selingan untuk menunggu waktu ibadah”. Cukup bijaksana. Namun jika bisa niatkan dalam hati bahwa bekerja itu ibadah. Maka, akan menjadi “bekerja itu adalah ibadah selingan untuk menunggu waktu ibadah utama”. Jika niat bekerja ibadah, ketika tidak mendapat gaji yang sesuai paling tidak usah sedih-sedih amat karena sudah ada balasan pahalanya.

Sudah jam 8:40 waktunya saya bekerja!

Standard
Renungan

Adab Penuntut Ilmu (1)

Disalin dari buku Mata Air Inspirasi dan ditambah dengan penjelasan penulis saat bedah buku.

Penuntut ilmu hendaklah menghiasi dirinya dengan adab-adab sebagai berikut:

  1. Mengikhlaskan Niat Hanya Karena Allah Ta’ala

Hendaklah dalam menuntut ilmu niatnya adalah wajah Allah Ta’ala dan kampung akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Barang siapa menuntut ilmu – yang mestinya untuk mencari wajah Allah Ta’ala, tiadalah ia mempelajarinya melainkan hanya untuk mendapatkan bagian dari dunia, pasti ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad) Ini adalah ancaman yang keras. (Kitab al-‘Ilmi, Syaikh ‘Utsaimin hlm. 25)

Apabila ilmu telah kehilangan niat yang ikhlas, berpindahlah ia dari ketaatan yang paling afdal menjadi penyimpangan yang paling rendah. Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tiadalah aku mengobati sesuatu yang lebih berat dari niatku.” Dari Umar bin Dzarr bahwasanya ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa orang-orang menangis apabila ayah menasihati mereka, sedang mereka tidak menangis apabila orang lain yang menasihati mereka?” Ayahnya menjawab, “Wahai putraku! Tidak sama ratapan seorang ibu yang ditinggal mati anaknya dengan ratapan wanita yang dibayar (untuk meratap). (Hilyah Tholibil ‘Ilmi, Bakr Abu Zaid hlm. 9-10)

Maksudnya, semua yang keluar dari hati itu akan masuk ke dalam hati orang lain dan membekas, akan tetapi jika tidak keluar dari hati maka tidak akan masuk ke dalam hati orang lain dan tidak membekas.

  1. Memberantas Kebodohan Dirinya dan Orang Lain

Hendaklah dalam menuntut ilmu berniat untuk memberantas kebodohan dari dirinya dan dari orang lain, karena pada dasarnya manusia itu jahil (bodoh), sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. an-Nahl [16]:78)

Al Imam Aham rahimahullah berkata, “Ilmu itu tiada bandingannya bagi orang yang niatnya benar.” Mereka bertanya, “Bagaimanakah hal itu?” Beliau menjawab, “Berniat memberantas kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.” (Kitab al ‘Ilmi, Syaikh ‘Utsaimin hlm. 26-27).

  1. Membela Syariat

Hendaklah dalam menuntut ilmu berniat membela syariat, karena kitab-kitab tidak mungkin bisa membela syariat sendiri. Tiadalah yang membela syariat melainkan para pengemban syariat. Di samping itu, modifikasi ibadah juga selalu muncul silih berganti yang ada kalanya belum pernah terjadi pada jaman dahulu dan tidak ada dalam kitab-kitab sehingga tidak mungkin membela syariat kecuali para penuntut ilmu. (Kitab al ‘Ilmi, Syaikh ‘Utsaimin hlm. 27-28)

  1. Berlapang Dada Dalam Masalah Khilafiyah (Perbedaan Pendapat).

Hendaklah selalu berlapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat yang bersumber dari ijtihad. Yaitu permasalahan yang memungkinkan seseorang berpendapat dan terbuka kemungkinan untuk berbeda. Adapun siapa saja yang menyelisihi jalan salafus shalih rahimahumullah dalam masalah aqidah maka hal ini tidak bisa diterima dan ditolerir. (Kitab al ‘Ilmi, Syaikh ‘Utsaimin hlm. 28-29. Baca pula untuk masalah ini kitab Perpecahan Umat, karya: Dr Nasir al-‘Aql, penerbit Darul Haq Jakarta.)

  1. Mengamalkan Ilmu atau Zakat Ilmu

Hendaklah para penuntut ilmu mengamalkan ilmunya, baik berupa aqidah, ibadah, akhlak, adab dan muamalah, karena hal ini adalah merupakan hasil dan buah dari ilmu itu. Pengemban ilmu itu seperti pembawa senjata; Bisa berguna dan bisa pula mencelakakan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Salam, “Al-Quran itu membelamu atau mencelakakanmu” (H.R. Muslim). Membelamu apabila kamu amalkan dan mencelakakanmu apabila tidak kamu amalkan. (Kitab al-‘Ilmi, Syaikh ‘Utsaimin hlm. 32)

Karena keutamaan ilmu itulah ia semakin bertambah dengan banyaknya nafkah (diamalkan dan diajarkan) dan berkurang apabila kita sayang (tidak diamalkan dan diajarkan) serta yang merusaknya adalah al-kitman (menyembunyikan ilmu). (Hilyah Tholibil Ilmi, Bakr Abu Zaid hlm. 72)

  1. Berdakwah Mengajak Kepada Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar’ mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali ‘Imran [3]: 104).

Hendaklah mendakwahkan ilmunya Allah Ta’ala dalam berbagai kesempatan, baik di masjid, di majelis-majelis, di pasar, dan di berbagai kesempatan. (Kitab al-‘Ilmi, Syaikh ‘Utsaimin hlm. 37-38).

Prinsip dakwah yang patut kita pegang, bahwa tugas kita hanyalah menyampaikan secara maksimal. Sementara yang memberi hidayah diterima atau tidaknya dakwah kita itu Allah Ta’ala. Manusia tidak punya kuasa untuk membuka atau menutup hati manusia. Sebagai renungan kisah Nabi Nuh yang berdakwah 950 tahun namun hanya memiliki sekitar 80 umat. Banyaknya umat bukanlah ukuran kesuksesan dakwah. Namun bagaimana proses dakwah tersebut dijalankan yang akan dinilai Allah Ta’ala.

Standard
Nukilan Hidup

“Ibu, apakah aku boleh sakit?”

Hari Selasa tepatnya H+4 setelah lebaran aku dan ibu menginjakkan kaki di rumah sakit. Hari sebelumnya sempat menginjakkan kaki di pelataran RS untuk mengantar Sepupu yang mengalami stroke. Tetapi hari Selasa itu kami mendapatkan jawaban kalau kondisi sepupu kami tersebut normal. Bahkan waktu di RS banyak kami habiskan untuk bertukar canda dengannya.

Sepulangnya kami musti menyelusuri jalan yang jauh. Jarak antara kamar sepupu dengan tempat parkir lumayan jauh. Menyusuri lorong-lorong dimana kami banyak melihat wajah pasi berisi kecemasan dan harapan dari orang-orang di luar kamar. Jika kita mau melihat parade rasa cemas mungkin rumah sakit adalah satu-satunya tempat terbaik yang menawarkan hal itu.

Sampai langkah kaki kami tiba di suatu lorong, ibu dengan nada datar berkata, “kamu dulu pernah dirawat di kamar ini waktu kecil”. Memori ibu nampaknya terpanggil untuk kembali ke masa lalu yang aku pun sebenar-benarnya tidak ingat kapan itu. Saking tidak pernahnya aku sakit masuk rumah sakit, aku lupa. Aku tidak tertarik untuk menanyakan hal-hal detail soal memori itu. Sakit itu sepertinya tidak layak untuk diingat.

Keluarga kami memang tidak punya histori penyakit yang parah. Kami sekeluarga diberi kesehatan yang berlebih oleh Tuhan.

Ada ribuan hal yang patut kusyukuri dari hidup sehat ini. Namun aku sering lalai dalam mensyukurinya. Mulai berjalan tanpa alat bantu, tidur tanpa diusik rasa nyeri, duduk tanpa rasa ngilu dan ribuan lagi lainnya. Aku membayangkan bagaimana jika hal di atas kulakukan tanpa kesehatan. Akan berat jika hal-hal sekecil itu harus dirasakan dengan rasa sakit.

Namun belakangan ada orang yang mengajariku dengan sederhana menghadapi penyakit. Dia menganggap penyakit itu wujud lain rejeki dari Tuhan. Dan bagaimana rejeki berwujud lain yang hadir menemani seumur hidupnya itu disyukuri dengan baik. Sehingga mungkin doa-doanya lebih simpel dari doa kami. Mungkin doa sekedar bisa lepas dari jam minum obat, doa bisa duduk lama, bisa berjalan jauh, atau berlari di pagi hari. Tidak semewah doa kami seperti diberi kesehatan tanpa jeda hingga akhir hayat dan diberi umur panjang.

Aku tidak marah ibu tidak mengajariku hal itu, mungkin ini juga salah doa ibu yang selalu dikabulk an. Tapi aku ingin bilang ke Ibu, “Ibu, apakah aku boleh merasakan sakit?”. Bukan untuk melawan takdir Tuhan. Tapi untuk merasakan rejeki dalam wujud lain itu. Dan “Ibu, apakah aku boleh merasakan sakit?”. Mungkin tidak melalui raga yang engkau doakan setiap hari ini. Tapi melalui tubuh dia yang mengajariku mensyukuri sakit sebagai berkah tak tertandingi. Menemani dia dan sakitnya sehingga aku bisa merasakan sakitnya dan dia bisa merasakan sehatku. “Bolehkah?”

Standard